Berita Terbaru :

Koleksi Download

Kolom Ustadz

Peta ke sekolah


Melihat SMP-SMK Al-Furqan Jember diperbesar?
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Siswa. Tampilkan semua postingan

Melepas Rindu nan Kangen dengan sang-Guru

Rasa rindu nan kangen sudah menjadi fitrah manusia dikala lama tak bersua dengan seseorang yang disayang, dirindukan bahkan dicintai. Hal ini muncul diwajah siswa-siswi SMK Al Furqan tatkala mereka berkesempatan ber-telekonferens dengan menggunakan media Skype dan bisa berkomunikasi langsung dengan Ust. Gilig yang Study di Jepang.

Pancaran kegirangan, senang, bangga campur aduk karena bisa berkomunikasi langsung dengan sang Ustad melalui media Online. Mereka saling menanyakan kabar satu sama lain, menanyakan kondisi yang bahkan tidak pernah terbersit difikiran mereka seperti apa suasana Negara Jepang yang mungkin menjadi impian setiap siswa/i bisa melihat langsung dan menikmati indahnya kota-kota di Jepang.

Semoga dengan fasilitas ini menjadi sebuah pelajaran berharga unttuk tidak mengurangi silaturahim dengan siapapun baik saudara, kerabat, teman, guru atau siapapun karena dizaman sekarang sudah banyak fasilitas yang diberikan untuk memudahkan hal itu semua.

Semoga kegiatan ini menjadikan inspirasi bagi siswa/i kelas XII (dua belas) yang beberapa hari lagi meninggalkan kampus tercinta untuk tetap menjaga tali persaudaraan dan silaturrahim.

Akhir kata selamat belajar Ust. Gilig semoga ilmu yang didapat dirantau bisa ditularkan pada Kami Semua.

Kunjungan Industri Lewat Internet - Bisakah Memenuhi Rasa Penasaran Siswa?

Tampilan sebuah channel di Youtube yang sangat edukatif
(Sekolah Islam Qur'ani) Siswa/siswi atau Santriwan/santriwati adalah pemuda yang sangat rakus terhadap ilmu pengetahuan, mereka ingin mengetahui apa saja. Hanya saja sajian yang kurang menyenangkan dapat menghilangkan "syahwat penasaran" mereka. Kunjungan industri biasanya sangat menarik karena siswa diajak untuk melihat, merasakan, bahkan menyentuh sebuah proses kerja secara personal.

Namun tentu saja untuk menyelenggarakan kunjungan industri tidak murah, lagipula membutuhkan rencana matang jauh hari sebelumnya. Bagaimana mengatasi hal ini?

Sekolah perlu menggagas penyajian film-film edukasi sebagaimana sebuah channel di Youtube memiliki banyak liputan di perusahaan mengenai cara-cara membuat sesuatu, apapun itu, mulai perlengkapan rumah tangga, hingga alat-alat kantor yang rumit. Sungguh menyenangkan bila tayangan ini mengisi waktu istirahat disetel dengan TV di beberapa lokasi di sekolah atau perpustakaan. Tentu anak akan bertanya, "Bagaimana caranya?"

Pembelajaran yang Menyenangkan Bersama Ustadzah

Belajar di dalam kelas terus menerus bisa menimbulkan kejenuhan. Apalagi bila metodenya kurang menarik. Eh, tapi menarik itu nggak harus menjadikan guru sebagai entertainer lho ya. Guru bisa mengajar seperti biasa namun dengan wawasan yang luas, sehingga membuat siswanya merasa seperti sedang masuk ke alam nyata, juga bisa menarik.

Namun kali ini Ustadzah Yani mengajak siswa memanfaatkan lingkungan sekolah yang alami sebagai kelas terbuka.

Siswa diajak ke tempat-tempat tak terduga, yang memadai untuk digunakan sebagai kelas.

Tentu saja tempatnya harus kering, lapang, dan teduh. Agar siswa benar-benar jenek (tenang, tentram) duduk selama pelajaran, mengingat kemungkinan besar mereka tidak akan membawa kursi.
Dan kegiatan di dalam eh... di luar kelas ini lebih cocok bila berupa kerja kelompok, bukan pemberian materi. Tapi apapun itu, guru patut mengeksplorasi kemungkinan baru. (www.smkalfurqan.com)

Bazaar Murah di Kampung, SMK Al-Furqan Kebanjiran Pembeli

Leni dan Solekah membawa kardus-kardus baju siap dijual


Warga di depan baju yang dijual


Warga memilih baju


Warga berebut membeli


Barang-barang pilihan, dibuka diperiksa dibeli



Transaksi mudah hatipun bungah

Laris manis, semoga berkah


Ibu-ibu sumringah dengan bahan belanjaannya








(www.smkalfurqan.com) Alhamdulillah, rangkaian Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) tahun 2013 ditutup hari ini dengan kesuksesan. Sebanyak 11 siswa baru dengan dipandu kakak OSIS menggelar bazaar murah di perkampungan Kebonsari Jember. Bahan-bahan yang dijual dalam bazaar tersebut adalah hasil sumbangan dari donatur dan ustadz-ustadzah di SMK Al-Furqan Jember. Tak kurang dari 6 dus pakaian baru dan bekas dikemas plastik dan dipajang ludes dalam jangka waktu kurang dari setengah jam saja.

30-an warga sekitar sudah memenuhi lokasi sebelum bazaar dimulai. Sayang ketertiban kurang bisa dijaga sehingga warga ada yang berebut. Beberapa warga mengeluhkan, “Kurang banyak”, Ada juga yang menanyakan, “Kapan ada lagi?” yang karuan saja kami bingung, “Mudah-mudahan tahun depan kalau ada rezeki.” Dijawab, “Kelamaan mas…”

Ada pula warga yang menyarankan untuk, “dijatah saja, bu, jangan boleh banyak-banyak belinya. Ada yang tidak kumanan (kebagian).” Insyaallah!

Alumni SMK tahun 2012, Hafifatul Jannah, kini kuliah di UT


(SMKAF) Alumni SMK Al-Furqan Jember tahun 2012, Hafifatul Jannah menyempatkan mampir ke sekolahnya saat mempromosikan Universitas Terbuka kepada adik-adiknya. Hafif, panggilan mahasiswi Agribisnis ini, tampak ceria dan bersemangat saat memotivasi agar melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Praktik Bahasa Inggris dengan Membuat Jadwal Perjalanan Pesawat (Tahap 1)

Mewarnai dan menandai lokasi bandara

(SMKAF) Di SMK Al-Furqan pembelajaran Bahasa Inggris dilakukan dengan cara yang melibatkan semua siswa. Materi kali ini adalah memahami jadwal perjalanan (Time Schedule for Public Transport), khususnya adalah jadwal penerbangan (Flight Schedule).

Siswa diberikan satu set jadwal penerbangan dari Bandara Sukarno-Hatta Jakarta. Dari jadwal tersebut siswa berkelompok dan membuat berbagai alat peraga:

Menggunting kertas menjadi pesawat
  1. Peta Indonesia
  2. Pesawat terbang dari kertas 
Hasilnya lumayan, siswa kelas lain banyak yang sengaja menonton kegiatan mereka dan mengagumi karya-karya mereka.

Diharapkan pada pertemuan selanjutnya, siswa dapat mempresentasikan rute penerbangan pesawat dari satu bandara ke bandara yang lain menggunakan bahasa Inggris



Semua siswa sibuk di kelas


Seminar Prakerin Siswa Pasca Magang, Sarana Pertanggungjawaban yang Berbobot

(SMKAF) Bulan Maret adalah akhir masa prakerin (Praktik Kerja Industri) atau disebut juga magang siswa kelas XI SMK Al-Furqan Jember. Mereka yang magang ditempatkan di berbagai perusahaan besar atau kecil di daerah Jember. Selama kurang lebih 3 bulan, yakni mulai bulan Desember akhir hingga Maret mereka "bersekolah" di perusahaan komputer.

Setelah menyelesaikan masa prakerin, setiap siswa diharuskan mempresentasikan kegiatan mereka selama 3 bulan tersebut di hadapan siswa kelas X dan guru pembimbing yang sekaligus berperan sebagai penguji.

Materi seminar telah disiapkan jauh-jauh hari oleh sekolah dengan mengakses link ini (klik disini). Setiap siswa mempresentasikan kurang lebih 5 menit yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berasal dari guru maupun adik kelas.

Safina, siswa kelas XI yang tahun lalu menyaksikan seminar prakerin kakak kelasnya kini mempresentasikan dengan cukup baik, padahal tahun lalu ia merasa seminar cukup menegangkan. Memang, segalanya nampak lebih sulit bila kita belum mengerjakannya.

Kreatif Menulis, Siswa Berdakwah di Kompasiana

klik untuk menuju lokasi
(SMKAF) Siswa SMK Al-Furqan tidak hanya berdakwah di lingkungan sekolah, tetapi juga mencoba merambah ke dakwah online dengan pembaca yang luas.

Adalah Nita Muninggar, siswa kelas XII yang di sela-sela kegiatan Ujian Nasionalnya masih menyempatkan untuk menulis artikel dakwah yang diterbitkannya di Kompasiana.

Kegiatan ini berawal dari tugas menulis dari guru PKN untuk mempostingnya di situs tersebut, karena memiliki banyak pengguna dan dinamis, dan lagipula minim dari nilai-nilai keislaman. Semangat dakwah yang memang ditanamkan di SMK Al-Furqan membuat Nita terus menulis meski tidak lagi mendapatkan tugas dari guru.

Inspiratif, semoga selalu bersemangat, insyaallah sukses di depat mata!
Laila dan Nita Muninggar

Mengisi Liburan dengan Mengenal Budaya Jepang

Fifir, Rozi, Seiichi, As'ad, Wahyu dan Muchtar
(SMKAF) Menjelang ujian nasional yang semakin dekat, kemarin pada tanggal 10-11 Maret 2013 selama dua hari berturut-turut siswa SMK Al-Furqan Jember mengisi hari libur nasional dengan kegiatan yang rekreatif sekaligus mendidik. Hal ini penting untuk mengendurkan ketegangan siswa agar tidak terbebani secara berlebihan oleh target kelulusan sekolah disamping juga untuk menghapus kesan hari terjepit adalah kesempatan untuk membolos.

Kebun Rayap Rembangan menjadi pilihan di hari pertama. Suasana dataran tinggi yang sejuk dan alami akan memberikan suasana baru dan santai. Kegiatan outbond yang diikuti oleh segenap siswa SMK ini dijalani dengan penjelajahan dan permainan-permainan kelompok. Kegiatan ini dipandu oleh Ustadz Gilig Pradhana, ustadzah Linda Ayu, ustadzah Anis Maftuha, dan ustadz Errieck Normadiansyah.
Yang istimewa adalah, bersama rombongan juga hadir tamu istimewa dari Osaka, Jepang, yakni Seiichi Hirakawa. Dalam salah satu permainan pesan berantai, pemuda negeri sakura ini menyampaikan pepatah Jepang untuk dihafal, “Saru mo ki kara ochiru” (monyet sekalipun akan jatuh dari pohon) yang kurang lebih semakna dengan sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.

Kepala Sekolah SMK Al-Furqan Jember, Gilig Pradhana, mengaku mengenal Seiichi dalam program pelatihan guru yang diikutinya di Hyogo University of Teacher’s Education pada tahun 2008 yang lalu. Saat itu dirinya diperkenalkan dengan berbagai tradisi Jepang seperti kimono, sushi, dan tenri.

Rangkaian acara dilanjutkan keesokan harinya dengan Seminar Mengenal Budaya Jepang yang berlokasi di yayasan Al-Furqan Jember. Seiichi mempresentasikan berbagai informasi tentang negeri matahari terbit kepada peserta yang berasal dari SMA Muhammadiyah 3, MAN 1, Unej, Unmuh, dan sekolah lainnya. Usai presentasi peserta antusias bertanya yang kebanyakan berkeinginan untuk melanjutkan studi ke sana. Seiichi mengaku senang dengan suasana kota Jember. Secara khusus ia menyebutkan kalau dirinya tertarik dengan keramaian alun-alun kota di Ahad pagi sewaktu diajak oleh ustadz Gilig berjalan-jalan mencari sarapan. Pagi itu yang dipilih Seiichi adalah mie ayam yang dikiranya mirip Ramen. Komentarnya tentang masakan Indonesia adalah, “Nandemo oishii!”



Aturan Baku Penyelenggaraan Klub

(SMKAF) Guna meningkatkan kualitas pembinaan kesiswaan, SMK Al-Furqan menerbitkan aturan baku tentang penyelenggaraan klub (di sekolah lain disebut ekstra kurikuler). Berikut ini adalah hasilnya:

Standard Operational Procedure
School Clubs

1.       Klub harus mengadakan kegiatan minimal seminggu sekali
2.       Dalam kegiatan klub harus selalu dihadiri oleh pembina klub
3.       Pembina klub diusulkan oleh siswa
4.       Pembina klub adalah orang yang ditunjuk oleh waka kesiswaan
5.       Kegiatan klub harus dilengkapi dengan daftar hadir
6.       Daftar hadir berisikan:
a.       Keterangan hari dan tanggal
b.      Nama siswa
c.       Tanda tanda tangan siswa anggota klub
d.      Nama pembina
e.      Tanda tangan pembina
f.        Uraian kegiatan/evaluasi
7.       Daftar hadir harus diserahkan kepada waka kesiswaan setiap bulan paling lambat tanggal 20.
8.       Biaya operasional klub didanai oleh sekolah melalui uang kegiatan siswa. Antara lain:
a.       Honor pembina (dihitung per pertemuan)
b.      Pembelian alat olah raga
9.       Klub mengajukan pembiayaan untuk keikutsertaan dalam turnamen/kompetisi melalui mekanisme proposal. Yakni untuk keperluan:
a.       Transportasi
b.      Biaya pendaftaran
c.       Konsumsi
d.      Honor pembina
10.   Proposal pengajuan pembiayaan kegiatan klub harus disertai dengan:
a.       Daftar hadir selama 3 bulan terakhir
b.      Foto-foto kegiatan pertandingan persahabatan minimal di 2 lokasi yang berbeda
c.       Iuran anggota klub keseluruhan minimal sebesar 40% dari biaya yang diajukan
11.   Seusai setiap turnamen/kompetisi klub harus:
a.       Membuat laporan pertanggungjawaban kegiatan
b.      Memuat foto-foto turnamen/kompetisi saat klub tersebut bertanding
c.       Memuat foto-foto anggota klub berbaris bersama di tempat pertandingan/turnamen/kompetisi

Koran Info Sekolahku edisi 5 Terbit dengan Wajah Baru


(SMKAF) Koran Info Sekolahku (KIS) edisi 5 bulan Februari 2013 telah diterbitkan. Versi PDF (online) bisa didownload di link berikut ini. Keberadaan koran ini diharapkan selain untuk menginformasikan tentang SMK Al-Furqan Jember, juga dapat mendidik para muda-mudi dalam menyelesaikan problem keseharian mereka. Selamat menikmati!

Versi PDF tersebut dapat Anda print dengan kualitas maksimal dengan ukuran kertas A4. Untuk mendapatkan templatenya, bisa menghubungi dengan memberikan komentar di bawah ini.

Siap Hadapi UNAS 2013 SMK Riyadlus Sholihien Belajar ke Al-Furqan

Suasana Lab SMK Al-Furqan yang dipadati siswa SMK Al-Furqan dan SMK Riyadlus Sholihien pada hari Ahad
(SMK AF) Ujian Nasional (UNAS) untuk tingkat SMK meliputi materi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Produktif. Pelajaran terakhir inilah yang membedakannya dengan SMA, yakni adanya ujian kompetensi yang berupa uji praktik dan uji tulis.

Untuk menghadapinya murid SMK harus menguasai mulai dari teknik menginstal komputer dengan Windows dan Linux, hingga membuat jaringan antar komputer.

Hari Ahad (13/1) yang lalu 14 murid kelas XII dari SMK Riyadlus Sholihien berkunjung ke lab. Komputer SMK Al-Furqan untuk praktik bersama selama 2 hari berturut-turut dari pagi hingga malam hari (lihat foto di atas).

Laboratorium komputer Al-Furqan yang senantiasa terhubung dengan internet memudahkan baik murid maupun guru dalam mendapatkan informasi yang diperlukan dari berbagai penjuru dunia.
Diharapkan ke depannya SMK Al-Furqan insyaallah mampu membangun gedung baru yang lebih mendukung pembelajaran.

Sistem Pengendalian Kedisiplinan Sekolah

(SMKAF) Sekolah manapun pasti menghendaki murid-muridnya untuk berdisiplin dan taat pada peraturan. Terlebih lagi sekolah Islam yang berusaha mendidik mereka menjadi insan yang beriman dan bertaqwa. Peraturan sekolah sangatlah diperlukan namun terkadang banyaknya peraturan tidak serta merta menjadikannya mudah ditegakkan. Padahal kedisiplinan adalah kunci kesuksesan. Tidak ada orang sukses tanpa sikap disiplin. Oleh karena itu permasalahan penegakan kedisiplinan selalu menjadi perhatian besar bagi sekolah-sekolah yang bervisi besar.

Definisi Disiplin

Pertanyaannya, apakah kedisiplinan itu? Jikalau kedisiplinan diterjemahkan hanya sebagai ketaatan murid kepada peraturan yang berlaku, dikhawatirkan murid akan ketaatan semu yakni bersikap manis di depan guru namun memberontak di belakangnya. Butuh pengertian yang lebih sesuai tentang arti kedisiplinan agar tercapai sebuah mutu yang sesuai harapan.
Dari sini Saya menerjemahkan disiplin sebagai kesadaran untuk bersikap terbaik, dimana terdapat faktor internal dalam diri murid untuk menampilkan karakter dan perbuatan yang terbaik bagi dirinya dan bagi lingkungan sekolah. Dalam konteks sekolah Islam, sikap terbaik tentunya adalah sikap yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau akhlakul karimah.
Sekolah dalam membuat peraturan-peraturan perlu pertama kali untuk menyandarkan ukurannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apakah suatu perbuatan dianggap pantas atau tidak, harus bertolak dari patokan ini. Bila terdapat perbedaan nilai, antara yang berlaku di masyarakat dengan yang diperintahkan dalam Islam, maka yang harus menjadi patokan utama tetaplah Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan pendapat masyarakat. Misalnya, ukuran kesopanan dalam berpakaian bagi murid perempuan, di masyarakat Indonesia rok panjang sudah mencukupi apabila melebihi lutut, sedangkan baju lengan pendek masih dianggap sopan. Namun demikian tidak demikian bagi sekolah Islam. Sebab telah jelas di dalam Al-Qur’an Surat An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59 bahwa setiap perempuan yang telah baligh (cukup umur) diwajibkan menutup aurot. Nah, kriteria aurot dan penutupnya juga telah detil dibahas dalam berbagai kitab fikih sehingga tidak terdapat kerancuan lagi. Singkatnya, pakaian pendek yang oleh masyarakat masih dianggap sopan, ternyata oleh syariat Islam dihukumi haram. Maka peraturan sekolah seharusnya melarang pakaian yang demikian, sekaligus mendidik murid dan masyarakat (terutama keluarga murid) untuk berpakaian sesuai syariat Islam.

Tujuan Perumusan Peraturan Sekolah

Sangat disayangkan bila peraturan sekolah dibuat hanya untuk menaikkan citra sekolah. Peraturan macam apakah itu? Mari kita simak, di sebuah perguruan tinggi terdapat peraturan yang melarang mahasiswa mengikuti kelas apabila terlambat lebih dari 5 menit. Apa tujuan peraturan semacam ini? Bagaimana mungkin ada aturan dibuat dengan mengorbankan hak belajar bagi pelajarnya. Bukankah lebih baik apabila peraturan tersebut dibuat dengan memberikan sanksi lain bagi pelajar yang terlambat namun tetap memberikan haknya untuk mengikuti perkuliahan? Suruhlah mahasiswa tersebut menyapu, mengepel, mengerjakan tugas, atau apapun asal jangan menyuruhnya pulang setelah jauh-jauh dia berusaha datang ke kelas.
Yang lebih konyol, di perguruan tinggi yang sama, peraturan yang sama dibuat untuk dosennya. Yakni apabila dosen terlambat lebih dari lima menit, maka kelas dinyatakan bubar, mahasiswa boleh pulang ke rumah. Puncak kekonyolannya adalah setelah mendengar peraturan tersebut diumumkan, mahasiswa bersorak gembira seolah meraih kemenangan. Apa tujuan peraturan tersebut? Bahkan tidak ada pihak yang belajar memperbaiki keterlambatannya dengan “hukuman” model begitu.
Jadi peraturan harus dibuat untuk mencapai tujuan sekolah. Kalau anda membuat peraturan murid harus mengenakan sepatu berwarna hitam dan kaus kaki putih, introspeksilah apa tujuannya, kemudian bandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk menegakkan tujuan tersebut. Tahu maksudnya? Mari kita perjelas dengan tabel berikut:
Tujuan Peraturan
Biaya Menegakkan Aturan
Kondisi
·         Sepatunya seragam
·         Terlihat rapi
·         Siswa harus membeli sepatu dan kaus kaki
·         Siswa kebanyakan kurang mampu

Dari pemisalan di atas dapat disimpulkan bahwa beban penegakan aturan tidak seimbang terhadap hasil yang ingin dicapai. Dalam kondisi semacam ini aturan menyeragamkan sepatu dan kaus kaki akan sulit ditegakkan. Sekolah perlu mencari cara lain untuk tetap dapat menampilkan “keseragaman” atau “kerapian” bila hal tersebut memang benar-benar merupakan tuntutan di sekolah. Namun tatkala peraturannya tidak diberlakukan, maka ketidakseragaman tidak boleh lagi dinilai sebagai sebuah ketidakdisiplinan.

Prioritas Penegakan Aturan

Anggaplah siswa mampu menaati aturan sekolah, atau sebaliknya, sekolah memberikan fasilitas yang cukup menunjang untuk ditegakkannya kedisiplinan menaati peraturan, maka barulah kita memperhatikan prioritas penegakan aturan. Pilihlah aturan-aturan yang mendasar untuk ditindak secara ketat, sedangkan yang tidak mendasar berlakulah lebih longgar.
Misalnya, jika mendapati siswa yang merokok, mencontek, dan terlambat sekolah, mana yang disikapi paling serius? Bagaimana cara menimbangnya? Salah satu caranya adalah dengan mengukur seberapa besar dampak negatifnya pada diri siswa itu sendiri, dan seberapa luas dampak negatif itu berpengaruh bagi orang lain. Mungkin tabel berikut akan lebih mempermudah penilaian kita:
Merokok
Mencontek
Terlambat
LATAR BELAKANG:
·         Siswa bisa menghindari, namun akan berat bila orang tua tidak mendukung
·         Siswa pasti bisa menghindari
·         Siswa belum tentu bisa menghindari bila disebabkan faktor eksternal
DAMPAK NEGATIF:
·         BESAR! Segala keburukan rokok, ditambah pergaulannya biasanya juga buruk, dan ada kemungkinan akan lebih buruk lagi. Biasanya berani salah terang-terangan.
·         SEDANG. Siswa cenderung malas, ingin serba instan, tidak percaya diri. Namun masih sembunyi-sembunyi.
·         KECIL. Siswa akan malu bila terlambat, meski tidak dihukum. Ada dorongan untuk menghindari keterlambatan secara naluriah.
DAMPAK SOSIAL:
·         Mengganggu orang lain karena asap dan debunya
·         Orang tertentu saja yang akan merasa terganggu
·         Kebanyakan orang lain tidak akan terlalu terpengaruh dengan keterlambatannya.

Sudah bisa dibandingkan mana yang seharusnya ditempatkan pada posisi “pelanggaran berat” dan mana yang “ringan”. Tentu saja hal ini dapat berbeda di lain tempat, masing-masing sekolah perlu membicarakan ini bersama-sama antara guru dengan komite sekolah.

Prinsip Penanganan Kedisiplinan

Tidak semua pelanggaran harus diberikan sanksi, namun yang jelas semua pelanggaran harus ditindaklanjuti. Jadi tindak lanjut tidak harus berupa sanksi. Sekolah perlu merumuskan tahapan-tahapan penanganan kedisiplinan atau tidak lanjut terhadap pelanggaran peraturan sekolah. Misalnya:

  1.        Diberikan nasehat
  2.        Diberi tugas belajar (mengerjakan soal/LKS/mengarang, dsb)
  3.        Diberi tugas kebersihan (menyapu, mengepel, menata buku, dsb)
  4.        Diberikan tugas olah raga (lari atau push-up)
  5.        Diberikan surat peringatan
  6.        Dilakukan penyitaan (terhadap rokok, HP, senjata, media pornografi, dsb)
  7.        Dilakukan pemanggilan kepada orang tua
  8.        Diskors
  9.        Dikeluarkan
Kesembilan poin di atas bukan merupakan urutan-urutan tahapan pemberian tindak lanjut terhadap pelanggaran peraturan. Sekolah bisa memilih beberapa dari ke-9 poin di atas untuk dirumuskan dalam satu kategori pelanggaran. Misalnya, untuk pelanggaran ringan tindak lanjutnya bisa berupa nomor 1, 2, 3, 4, 5 dan 7. Sedangkan untuk pelanggaran sedang bisa dengan 1 hingga 8. Sedangkan pelanggaran berat  bisa mulai nomor 5 hingga 9. Untuk contoh riilnya berikut terdapat peraturan yang diterapkan di SMK Al-Furqan Jember.

Tingkat Pelanggaran Siswa

TINGKAT
CONTOH
POIN
TINDAKAN
BERAT
1.      Berzina/Miras/Narkoba
2.      Tawuran/berkelahi
3.      Berpacaran
4.      Merokok
5.      Tidak mau menutup aurot
6.      Tasyabbuh bil kuffar
7.      Pelanggaran lainnya yang besar menurut Syari’at Islam
1.      100
2.      100
3.      50
4.      50
5.      50
6.      50
7.      ?

1.      Diberi nasehat
2.      Disita dan tidak dikembalikan (benda tidak syar’i)
3.      Diberi surat peringatan
4.      Diskors
5.      Dikeluarkan
SEDANG
1.      Bercampur antara lelaki dan perempuan (contoh bergandengan tangan atau berboncengan sepeda)
2.      Mengumpat/memaki/mencela
3.      Memodifikasi seragam
4.      Tidak amanah/mengabaikan guru
5.      Tidak melakukan sholat berjamaah tanpa alasan
6.      Membolos
7.      Pulang mendahului (Alpa) tanpa alasan
8.      Membawa HP
9.      Tidak memakai sepatu/seragam yang sesuai tanpa alasan
1.      25


2.      25
3.      20
4.      15
5.      15
6.      10
7.      10
8.      10
9.      10
1.      Diberi nasehat
2.      Diberi tugas belajar
3.      Diberi tugas kebersihan
4.      Diberikan surat peringatan
5.      HP Disita dan tidak dikembalikan
RINGAN
1.      Terlambat
2.      Berpenampilan tidak rapi/sopan

1.      5
2.      5
1.      Diberi nasehat
2.      Diberi tugas belajar
3.      Diberi tugas kebersihan
Catatan:
1.      Apabila poin pelanggaran telah mencapai 50, maka kaur kesiswaan harus melakukan peringatan tertulis kepada orang tua/wali.
2.      Apabila poin pelanggaran telah mencapai 75, maka kaur kesiswaan harus melakukan pemanggilan orang tua/wali. Disertai sanksi skors menurut tingkat pelanggarannya.
3.      Apabila poin pelanggaran telah mencapai 100, maka sekolah memanggil orang tua/wali dan mengembalikan siswa kepada orang tuanya untuk dipindahkan ke sekolah lain.

Silakan download lembar CATATAN PELANGGARAN SISWA disini.

Bagaimana penerapan tindakan-tindakan tersebut seharusnya? insya’aLlah akan dibahas dalam tulisan selanjutnya. Semoga bermanfaat!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Trend Minggu Ini

 

Seluruh kebaikan dari situs ini boleh disebarluaskan tanpa harus mengutip sumber aslinya, karena pahala hanya dari Allah | Dikelola oleh © SMK Al-Furqan Jember.